Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label tugas psikologi pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas psikologi pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2011

Foto...Foto dan Foto..

Aku bukanlah orang yang pandai merangkai kata - kata
Aku  juga bukanlah orang yang pandai memainkan nada dan suara.
Ku hanya orang yang mencoba memahami kehidupan melalui foto.
Foto..Foto dan Foto..
Jangan harapkan kesempurnaan cahaya, tata letak, ruang, dan model disini.
Karena aku merasa semua hal itu indah..
Gunakan imajinasi dan tema yang bebas untuk dapat menikmati hal ini.
Enjoy my photo guys. :)
Smile.. :)
The Ditch
Porseni Psikologi USU 2011
Green in Grayscale
A canoe
Pertandingan Voli
6 strings
Lake Toba from Simalem
Reflection in Reflection
REd aNd whiTe
Traffic Light
Hope, Pray and Believe
Duriaan!!!
Can you see that lip?
Mom
Medan Highlight
little red
The Lion of the temple



Untuk melihat foto - foto lainnya bisa dilihat di album saya disini.

Read More here..... “Foto...Foto dan Foto..”  »»

Selasa, 08 Maret 2011

Kognisi dan Motivasi pada Proses Learner-Centered

Banyak cara untuk belajar mengenai Kognisi dan Motivasi. Salah satunya adalah dengan melakukannya langsung. Seperti yang dilakukan pada pertemuan minggu ini di mata kuliah Psikologi Pendidikan. Dengan tetap menggunakan learner-center, dosen pengampu memberikan tugas kepada mahasiswa untuk menilai teman - teman yang berada di dalam satu kelompok. Disini dosen pengampu sudah mengajarkan 3 hal sekaligus, yaitu Johari Windows, kognisi dan motivasi.

Dimulai dari Johari Windows atau biasa disebut jendela Johari. Dimana disini diajarkan bagaimana seharusnya berkomunikasi dengan orang lain. Sejauh apa seseorang bisa menerima penilaian orang terhadap dirinya. Bagaimana 2 hal penting antara saya dan orang lain serta tahu dan tidak tahu bisa membentuk sebuah jendela yang terdiri dari empat kotak, yang masing - masing mempunyai penjelasan seperti berikut : 


Kemudian pembelajaran mengenai kognisi terjadi disini. Banyak jenis - jenis kognisi yang bisa terjadi pada saat proses penilaian. Mulai dari pendekatan deduktif yang merupakan penalaran dari umum ke spesifik. Awalnya saya mengenal teman saya melalui pandangan saya kepadanya secara umum, seperti contohnya ia pendiam. Kemudian, setelah sering berkomunikasi dan berinteraksi, akhirnya pandangan itu berubah menjadi lebih spesifik lagi dengan mengetahui bahwa ia sebenarnya enak diajak bicara dan ramah. Kemudian, ada juga Model Pembelajaran Observasional Kontemporer Bandura yang bisa digunakan. Ada empat proses yang digunakan pada model ini, yaitu atensi, retensi, produksi, dan motivasi. Awalnya saya memberi atensi terhadap perilaku teman saya ketika berkomunikasi, kemudian karena frekuensi berkomunikasi yang sering saya memberikan retensi kepada perilaku teman saya dan mengingatnya. Saya produksi beberapa perilaku yang baik yang bisa saya contoh untuk dapat menjadi orang yang lebih baik lagi, dan akhirnya memotivasi saya untuk terus berkarya dan merubah pribadi saya menjadi orang yang lebih baik lagi.

Dan pembelajaran terakhir yaitu motivasi. Baik secara ekstrinsik, dengan cara melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Salah satu tujuan saya melakukan ini adalah karena ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dosen pengampu saya. Motivasi secara intrinsik juga terjadi disini, yaitu melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri.


sumber : 
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media
Group

Read More here..... “Kognisi dan Motivasi pada Proses Learner-Centered”  »»

Senin, 07 Maret 2011

Mengenal lebih dekat Operant Conditioning


Operant conditioning adalah teori belajar dimana konsekuensi dari lingkungan dapat mengubah perilaku seseorang. Biasanya operant conditioning digunakan untuk mengubah perilaku seseorang dengan memberikan penguatan (reinforcement) yang positif dan negatif kepada perilaku yang ingin ditimbulkan. Ataupun memberikan hukuman (punishment) untuk perilaku yang ingin dihilangkan. Operant  conditioning berbeda dengan classical conditioning yang merupakan dua stimulus yang saling berpasangan/asosiasi dari 2 stimulus melainkan merupakan konsekuensi dari perilaku yang dilakukan.
Awalnya Operant Conditioning dilakukan oleh Edward Thorndike pada tahun 1911. Thorndike ingin mengetahui kemampuan intelegensi hewan dan menggunakan puzzle box. Dan mendapatkan hasil bahwa konsekuensi dari sebuah tindakan menentukan apakah tindakan tersebut akan dilakukan kembali di masa yang akan datang. Namun Burrus Frederick Skinner kembali melakukan percobaan dengan menggunakan Skinner Box dan tikus. Seperti yang tampak  pada gambar dibawah.
Skinner box digunakan untuk melatih binatang yang dilengkapi dengan tuas yang dapat  ditekan untuk mendapatkan makanan. Makanan disebut sebagai penguat, dan proses pemberian makanan tersebut disebut penguatan. Awalnya tikus dimasukkan kedalam kotak dan ia akan mulai mengendus sekitar kotak dan menekan tuas. Ketika ia menekan tuas, makanan dan air keluar ke cangkir makanan (food cup). Setelah mengulang hal ini berkali – kali, tikus mempelajari bahwa ia akan mendapatkan makanan jika menekan tuas. Ketika tikus mendapatkan hadiah (makanan), maka ia dikondisikan untuk mengulang tindakan tersebut untuk terus mendapatkan makanan. Penguatan terdiri dari dua jenis, yaitu positive reinforcement dan negative reinforcement.
Positive reinforcement adalah membuat suatu perilaku semakin kuat dengan memberikan stimulus yang menyenangkan. Pada percobaan Skinner, positive reinforcementnya adalah tikus mendapatkan makanan ketika menekan tuas. Pada proses belajar mengajar, positive reinforcement yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan pujian kepada murid yang mengajukan pertanyaan, sehingga pada saat proses – belajar mengajar selanjutnya anak – anak akan lebih sering bertanya.
            Sedangkan negative reinforcement adalah membuat perilaku semakin kuat dengan menghilangkan stimulus yang tidak menyenangkan. Pada percobaan Skinner, ketika tikus menekan tuas, ia mematikan sengatan listrik dan mendapatkan makanan. Jika pada proses belajar – mengajar yang dapat dilakukan adalah dengan berhenti memarahi murid yang mengumpulkan tugasnya tepat waktu. Karena murid berpikir gurunya akan berhenti memarahinya jika mengumpulkan tugasnya tepat waktu, maka murid tersebut akan selalu mengumpulkan tugasnya tepat waktu.
Selain reinforcement, punishment juga bisa digunakan untuk mengubah perilaku seseorang. Sebenarnya lebih mengarah ke menghentikan perilaku yang tidak diinginkan. Punishment harus disampaikan dengan segera setelah perilaku yang tidak diinginkan terjadi dan biasanya konsekuensinya agak keras. Namun terkadang  punishment bisa menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan seperti ketakutan dan kemarahan. Punishment adalah menghilangkan atau mengurangi sebuah perilaku dengan cara menampakkan stimulus yang tidak menyenangkan. Pada percobaan Skinner, awalnya ketika menekan tuas tikus mendapatkan makanan, namun ketika menekan tuas untuk kedua kalinya, ia mendapatkan sengatan listrik. Maka ia belajar untuk tidak menekan tuas itu lagi. Jika sedang berada pada proses – belajar – mengajar, mungkin saja ada beberapa kali murid menyela apa yang dikatakan gurunya, namun ketika murid tersebut terlalu sering melakukannya maka guru akan memarahinya dan memberikan hukuman padanya sehingga murid tidak berani lagi melakukannya.
 Dan begitulah Operant Conditioning yang tanpa kita sadari sudah berlaku dalam proses belajar - mengajar kita, di Indonesia.

Sumber :
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media

Lahey, B. B. (2007). Psychology: an Introduction (9th edition). New York:Mc.Graw-Hill

Read More here..... “Mengenal lebih dekat Operant Conditioning”  »»

Selasa, 01 Maret 2011

Distance Learning

Dikarenakan akan diadakannya kembali kuliah online pada mata kuliah Psikologi Pendidikan kali ini, maka saya akan sedikit membahas Distance Learning atau belajar jarak jauh. Distance Learning adalah bentuk pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan modul yang tercetak yang digunakan untuk korespondensi dan pembelajaran berbasis TIK, seperti televisi, radio, dan komputer serta internetnya. (Munir,2010 : 216). Jadi maksudnya disini adalah yang belajar dan yang mengajar tidak lagi perlu harus berada dalam satu tempat untuk dapat memulai suatu proses belajar - mengajar. Contohnya saja adalah pada saat nanti akan diadakannya perkuliahan online. Mahasiswa dan dosen tidak perlu lagi berada di dalam satu kelas dikampus untuk tatap muka dan belajar. Tapi bisa dilakukan dirumah masing - masing, di warnet ataupun dimana mahasiswa dan dosen inginkan. Selain itu sebenarnya Distance Learning ini menjawab beberapa masalah dalam pendidikan, seperti mengatasi masalah keterbatasan SDM, penghematan pengeluaran anggaran pendidikan, efisiensi pemahaman materi dan lain - lain.
Distance Learning memiliki beberapa karateristik yaitu :
  1. Menjangkau semua peserta didik
  2. Proses belajar dilakukan secara mandiri
  3. Sumber belajar adalah bahan yang dikembangkan ssecara sengaja sesuai kebutuhan dengan tetap berpedoman pada kurikulum.
  4. Interaksi pembelajaran bisa dilaksanakan secara langsung dalam suatu pertemuan
  5. Waktu yang digunakan tepat sesuai waktu dan program yang telah ditentukan
  6. Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik
  7. Program disusun disesuaikan dengan jenjang, jenis, dan sifat pendidikan
  8. Penilaian dilakukan sendiri (self evaluation) (Munir,2010 : 216)



Itu semua adalah karateristik dari Distance Learning. Jika suatu proses belajar - mengajar sudah sama dengan ciri - ciri di atas, maka proses belajar mengajar tersebut suah sesuai dengan metode  Distance Learning

Sumber :
Munir., (2008). Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung:
Alfabeta
http://www.slideshare.net/mrwhy/sistem-pendidikan-jarak-jauh-melalui-internet-presentation

Read More here..... “Distance Learning”  »»

Minggu, 13 Februari 2011

Technology Literacy.. Sudahkah itu terjadi di Indonesia?

Abad 21 dikenal sebagai abad teknologi dimana berbagai teknologi tumbuh dan berkembang dengan pesatnya bagaikan rumput yang tumbuh di padang. Berbagai perusahaan teknologi dari berbagai bidang saling bersaing memunculkan inovasi - inovasi baru untuk meningkatkan kualitas perusahaannya di mata konsumen. Begitu juga dengan teknologi di bidang pendidikan. Teknologi bagaikan jendela pengetahuan yang dengan cepatnya dapat diakses untuk mendapatkan suatu pengetahuan baru.
Pada dasarnya masyarakat ditunutut untuk melek teknologi (technology literacy). Melek disini bukan hanya mengenal dan mengetahui bahwa teknologi itu ada. Tapi juga mampu memilih, merancang, membuat, dan menggunakan hasil - hasil rekayasa teknolog teknologi tersebut. (Munir 2010 : 174). Mengapa demikian? Karena sebentar lagi dunia akan memasuki revolusi teknologi. Dan untuk mencegah negara tersebut menjadi negara terbelakang, masyarakatnya harus sudah melek teknologi.

Namun sayangnya di Indonesia  technology literacynya masih cukup rendah. Sampai pada tahun 2009 penetrasi komputer di Indonesia hanya 4 %, dan penetrasi internet sekitar 10 %. Jika ingin dikhususkan lagi, technology literacy dalam bidang pendidikan di Indonesia masih sangat minim. Baik pendidik maupun peserta didik masih cuma dalam batas mengenal mengenai teknologi. Padahal untuk menghadapi perkembangan teknologi yang cepat namun terkadang sulit diprediksi, peserta didik harus mempunyai ketrampilan yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan kapan saja dan dimana saja.

Peserta didik di Indonesia memang bisa dibilang cukup aktif dalam hal berteknologi. Namun mereka tidak aktif dalam bidang pendidikan, namun lebih ke arah bidang sosial. Banyak pelajar di Indonesia yang sangat aktif di situs jejaring sosial seperti facebook, twitter dan lain - lain, ataupun dalam game online. Namun jika ditanya milis pendidikan mana yang pernah mereka ikuti (join menjadi anggota), mungkin masih banyak peserta didik yang tidak mengikutinya atau bahkan tidak mengerti maksud dari milis tersebut. Jadi yang bisa dikatakan disini adalah peserta didik Indonesia menggunakan internet masih hanya untuk hiburan tetapi bukan untuk perluasan ilmu pengetahuan. Padahal tolok ukur technology literacy adalah kemampuan mendefenisikan, akses, mengelola integrasi, evaluasi, berkreasi dan berkomunikasi. Disinilah peran pendidik yang melek teknoloi dibutuhkan, sehingga bisa mengarahkan para peserta didik untuk mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan dasarnya dalam bidang teknologi. Dengan menerapkan Student-centred learning yaitu dengan :
  • mengembangkan kemampuan pesrta didik untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan nyata
  • menumbuhkan pemikiran reflektif
  • membantu perkembangan dan keterlibatan aktif dari pesrta didik dalam proses belajar
bisa meningkatkan technology literacy dari si peserta didik, karena Information and Communication Technology Literacy tidak sekedar pemahaman akan keterampilan teknis, tetapi juga mencakup hal yang bersifat kognitif.

Intinya adalah technology literacy di Indonesia sudah mulai meningkat, namun di bidang pendidikan, technology literacynya masih perlu ditingkatkan dan pendidik sangat berperan penting dalam peningkatan technology literacy dari peserta didiknya. Dengan kata lain, untuk mendapatkan murid yang melek teknologi, diperlukan guru yang melek teknologi.

Sumber :
Munir., (2008). Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung:
Alfabeta

http://www.tribunnews.com/2010/04/20/tingkat-penggunaan-komputer-di-indonesia-masih-rendah
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=57183
http://elibrary.mb.ipb.ac.id/files/disk1/17/mbipb-12312421421421412-mohammadni-825-10-e27-05-n-n.pdf
 

Read More here..... “Technology Literacy.. Sudahkah itu terjadi di Indonesia?”  »»

Rabu, 02 Februari 2011

Sudah Melek Teknologikah Guru di Indonesia?

Dewasa ini teknologi bukanlah menjadi suatu hal yang baru. Berbagai kalangan sudah mengenal hal ini. Mulai dari TV, radio, internet, komputer dan bahkan telepon genggam (handphone).
Namun, teknologi ini lebih sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan hiburan semata. Padahal jika mau mengolah dan menciptakan suatu inovasi baru, maka teknologi bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Dan hal inilah yang seharusnya menjadi kesempatan untuk menunjukkan profesionalisme seorang guru dalam mengajar.

Murid - murid yang bervariasi menjadikan mengajar menjadi suatu hal yang kompleks. Tidak ada cara mengajar yang efektif untuk semua hal. Namun guru harus menguasai 2 hal utama yaitu pengetahuan dan keahlian profesional dan komitmen dan motivasi. Guru yang efektif harus dapat menguasai materi pelajaran dan keahlian mengajar yang baik, memiliki strategi pengajaran yang baik serta didukung oleh penetapan tujuan, rancangan pengajaran dan manajemen kelas. Mereka tahu bagaimana memotivasi, berkomunikasi, dan berhubungan secara efektif dengan murid - murid serta memahami cara menggunakan teknologi yang tepat guna di dalam kelas. Namun, apakah guru - guru di Indonesia sudah melek terhadap teknologi?

Keahlian teknologi sudah seharusnya sudah menjadi kewajiban bagi para guru untuk dapat meningkatkan cara pengajarannya kepada murid - muridnya. Namun sayangnya di Indonesia masih banyak guru yang gagap teknologi. Mereka menutup mata akan perkembangan zaman yang sudah terjadi. Mereka merasa mapan dengan kemampuan yang sekarang. Padahal di zaman cyber space seperti sekarang ini, seorang guru harus melek teknologi karena e-learning sudah mulai didengungkan ke masyarakat dan e-learning itu membutuhkan seorang guru. Jika gurunya saja masih buta teknologi, bagaimana muridnya dapat mengoptimalisasikan e-learning. Selain itu beberapa guru yang berada di daerah terpencil merasa keahlian teknologi bukanlah suatu hal yang penting yang dapat meningkatkan wawasan anak didiknya. Dan tidak adanya kesempatan untuk lebih dekat dengan teknologi.
Fenomena ini sudah mulai dirasa oleh Persatuan Guru Republik Indonesia dan Departemen Pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Seperti di Sumatera Utara dan Kota Pekalongan yang melakukan program "One Teacher One Laptop" dan "Sagutala" yang keduanya merupakan program pembagian laptop kepada guru - guru sehingga dapat meningkatkan pengetahuan berbasis ilmu teknologi.
Tetapi, selain meningkatkan pengetahuan berbasis ilmu teknologi, guru harus bisa mengintegrasikan komputer ke dalam proses belajar di kelas, mengevaluasi efektivitas game instruksional dan simulasi komputer dan memahami berbagai perangkat lainnya sehingga bisa mengatur para murid untuk menggunakan teknologi secara positif. Karena jika guru tidak mampu memahami perangkatdan fitur - fitur lain pada teknologi, maka murid akan menjengkali gurunya dan menyalahgunakan teknologi tersebut seperti mengakses video porno.

Menurut saya, sosialisasi mengenai keahlian teknologi ini harus semakin ditingatkan di kalangan para guru. Setiap guru yang melakukan sertifikasi sudah seharusnya mendapatkan pelatihan keahlian mengenai teknologi pendidikan ini. Sehingga nantinya guru dapat menggunakan berbagai teknologi dalam kurikulum untuk mengajar, belajar dan manajemen instruksional. Karena melalui teknologi, keahlian penalaran anak akan semakin meningkat. Dan jika keahlian penalaran anak baik, menurut E. L. Thorndike hasil pembelajaran akan semakin baik.

Demikian asumsi saya mengenai keahlian teknologi yang seharusnya dimiliki setiap guru di Indonesia. Terimakasih.

Sumber :
Santrock, John W. 2007 . Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta : Prenada Media Group.
http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/20/kenapa-banyak-guru-yang-belum-melek-ict/
http://miftahul-ulum.net/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=41
http://www.suaramedia.com/berita-nasional/34043-banyak-yang-gagap-teknologi-pgri-bekali-guru-dengan-laptop.html

Read More here..... “Sudah Melek Teknologikah Guru di Indonesia?”  »»